Profil Perusahaan Gojek

Gambaran Umum PT. Gojek Indonesia

PT. Gojek Indonesia  merupakan karya anak bangsa yang  berdiri pada tahun 2010 di Jakarta. Perusahaan ini kali pertama lahir dengan niat baik untuk memberikan solusi memudahkan kehidupan sehari-hari di tengah kemacetan perkotaan. Kala itu seorang pemuda kreatif Nadiem Makarim mempunyai pemikiran  untuk  membuat  bisnis  transportasi  ojek  yang  dikarenakan  ia  sering menggunakan jasa ojek. Karena kebiasaannya tersebut, Nadiem Makarim menemukan ide untuk dapat menciptakan sarana agar jasa Transportasi ojek lebih efektif  dan  efisien. Perusahaan  ini  bekerja  dengan  menghubungkan  ojek  dengan penumpang  ojek,  dimana  sebelumnya  tukang  ojek  lebih  banyak  menghabiskan waktu di pangkalan menunggu penumpang.
 
Go-Jek  bermitra  dengan  para  tukang  ojek  menggunakan  sistem  bagi  hasil dengan  ketentuan  20/80, yang  artinya  20%  pendapatan yang  diterima  untuk perusahaan dan 80% untuk driver Go-Jek. Go-Jek juga melakukan pelatihan kepada mitra driver mereka untuk memberikan kepuasan pelayanan terhadap pelanggan. 

Cakupan Jasa yang Ditawarkan pada Bidang TIK 

Go-Jek dapat dipesan melalui Go-Jek App yang bisa diunduh melalui Play Store maupun App Store. Pada awal peluncuran  aplikasi dalam waktu satu bulan aplikasi  ini  sudah  berhasil  mencapai  150.000  download,  dengan  rating  4,4  dari  5 bintang.  Untuk  pembayarannya  pun  memiliki  dua  cara  yaitu  secara  cash  atau menggunakan Go-Jek Credit atau Go-Pay. Go-Pay adalah metode pembayaran Go-Jek yang dibuat cashless dan dapat digunakan untuk membayar semua layanan. Awal pendiriannya,  Go-Jek  melayani  hanya  4  jenis  layanan  antara  lain: layanan  jasa  kurir  (90  minute  delivery  anywhere  in  the  city),  jasa  transportasi (transparent pricing, free masker and shower cap), jasa delivery makanan (delivering  your favorite food under 60 minutes in Jabodetabek) dan jasa belanja dengan nominal dibawah satu juta rupiah (shop fot food, ticket, medicine, anything under Rp. 1.000.000, we’ll pay  for it first). Go-Jek  terus  berkembang  dengan meluncurkan  inovasi-inovasi  baru  dengan  produk  layanan    jasa  yang  lain.  Hingga saat ini sudah ada enam belas layanan jasa yang dapat dipesan melalui aplikasi Go-Jek,  diantaranya  :  Go-Ride,  Go-Car,  Go-Food,  Go-Mart,  Go-Send,  Go-Box,  Go-Tix,    Go-Med,  Go-Massage,  Go-Clean,  Go-Auto,  Go-Glam,  Go-Bills,  Go-Pulsa, Go-Pay dan Go-Point. Selain itu Aplikasi Go-Jek juga dilengkapi dengan fasilitas Go-Pay, Go-Bills, Go-Point, dan Go-Pulsa.

 



Luas Lingkup Area Bisnis

Hingga  Maret  2021  ini,  Go-Jek  telah  bermitra  dengan  lebih  dari  500.000 driver ojek yang telah tersebar di 50 kota di seluruh Indonesia, di antaranya Bali, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Banyuwangi, Batam,  Belitung,  Bukittinggi,  Cilacap,  Cirebon, Garut, Gresik , Jakarta,  Jambi, Jember, Karawang, Kediri, Madiun, Madura, Magelang, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Mojokerto, Padang, Palembang, Pasuruan, Pekalongan, Pekanbaru,  Pematang  Siantar, Pontianak,  Probolinggo,  Purwakarta,  Purwokerto, Salatiga,  Samarinda,  Semarang,  Serang,  Sidoarjo,  Solo,  Sukabumi,Sumedang, Surabaya,  Tasikmalaya,  Tegal,  dan  Yogyakarta.  Aplikasi  Go-Jek  telah  diunduh lebih  dari  11.000.000  kali  di  Play  Store  di  sistem  Android  dan  App  Store  di perangkat iOS.
 
Gojek juga sudah memulai melakukan ekspansi secara internasional dengan membuka operasi perusahaan di beberapa manca negara.

Penghasilan Perusaahan Gojek

Sebagai perusahaan start up, penghasilan perusahaan Go-Jek dari beberapa sektor berikut ini.
 
  1. Layanan Jasa

Karena merupakan perusahaan berbasis transportasi online, maka hal utama yang dijual oleh Go-Jek adalah jasa. Sebagai contoh, pendapatan rata-rata satu pengemudi adalah Rp20.000 untuk satu pesanan. Terdapat 500.000 pengemudi di seluruh Indonesia dan rata-rata dalam satu hari pengemudi mendapat 6 pesanan. Menggunakan sistem bagi hasil 80% untuk pengemudi dan 20% untuk Go-Jek, maka diperoleh: Rp20.000 x 6 x 500.000 x 20% = Rp 12 milyar. Kemudian ada biaya bonus operasional dalam satu hari sejumlah 20% x 100.000 x 500.000) = 10 milyar rupiah. Maka dapat diambil jumlah hasil operasional dalam satu hari adalah (12 – 10) milyar = Rp2 milyar. Itu belum termasuk biaya lainnya.

Merujuk pada perhitungan tersebut, kerugian operasional yang harus ditanggung Go-Jek setiap bulannya sekitar 6 milyar rupiah. Itupun belum termasuk biaya non-operasional lain, seperti gaji dan tunjangan karyawan, biaya listrik, gedung, dan lainnya. Jika hanya mengandalkan pelayanan jasa, maka sebenarnya sulit bagi Go-Jek untuk mendapatkan penghasilan besar.Namun kerugian ini juga memiliki dampak baik. Adanya tarif murah disertai pelayanan yang maksimal tentu membuat semakin banyak orang menjadi pengguna jasa Go-Jek. Artinya, Go-Jek akan tetap mendapat kepercayaan dari penggunanya meski nantinya tarif tersebut dinaikkan.

  1. Database

Karena berbasis online, maka Go-Jek juga terkait erat dengan database. Semakin terkenal dan semakin banyak digunakan, maka semakin banyak pemasukan Go-Jek. Selain itu, dampak yang ditimbulkan adalah akan semakin banyak iklan yang masuk ke Go-Jek sehingga menambah pendapatannya.

Jika ada semakin banyak orang yang membuat akun Go-Jek, maka keuntungan yang diperoleh Go-Jek juga semekin besar. Hal itu karena semakin banyaknya database yang dimiliki Go-Jek, mulai dari nomor HP, email, hingga demografi pengguna. Bukan hanya itu, tempat tinggal, frekuensi penggunaan, dan lainnya juga dimiliki oleh Go-Jek.

Jika database ini dijual ke pihak luar, maka Go-Jek bisa memperoleh tambahan penghasilan. Database ini juga bisa digunakan untuk melakukan ekspansi bisnis tanpa pengeluaran biaya. Bisa juga untuk tes pasar dan membuat efisiensi biaya dengan cara membagi para pengemudi ke tempat yang banyak konsumennya.

  1. Kerja Sama

Go-Jek menerapkan penggunaan atribut yang harus dikenakan oleh pengemudinya, seperti helm dan jaket. Selain itu, Go-Jek juga membantu pembelian perangkat ponsel untuk pengemudi yang belum memilikinya. Kerja sama ini tentunya juga membawa keuntungan untuk Go-Jek.

Sebagai contoh, di awal ada pembayaran sebesar Rp800.000 untuk mendaftar dan biaya jaket serta helm. Untuk membuat jaket dan helm tersebut, Go-Jek mengeluarkan biaya sebesar Rp400.000. Dari sini sudah Rp400.000 keuntungan yang diperoleh untuk satu pengemudi. Jika terdapat 500.000 pengemudi, maka Go-Jek memperoleh Rp20 milyar.ebagai perusahaan yang sudah besar, Go-Jek juga tentu berhasil menjalin kerja sama dengan banyak pengusaha smartphone. Go-Jek bisa mendapat ponsel dengan harga yang lebih murah namun dibayar dengan harga pasaran oleh pengemudi. Hal yang sama juga berlaku pada provider. Ini tentu saja membawa keuntungan bagi Go-Jek, dan juga bagi pihak yang bekerja sama dengannya.
  1. Investor

Berbagai perusahaan besar, seperti Warburg Princus, Farallon Capital, dan Capital Group Private Markets menyuntikkan dana pada Go-Jek. Meski dari lini utama yakni penjualan jasa Go-Jek menanggung kerugian, suntikan dana ini membuat Go-Jek tetap bisa beroperasi. Investor ini juga membuat ekspansi bisnis Go-Jek bisa semakin cepat.

Pada tahun 2016 Go-Jek sudah memiliki nilai saham sebesar Rp20 triliyun. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya ketenaran Go-Jek, nilai saham tersebut tentu terus mengalami peningkatan. Bahkan saat ini nilai valuasi saham dari Go-Jek sudah mencapai angka 30 trilyun rupiah.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengukuran Website dan Esensi Web

Cara Membuat Pitch Deck yang Menarik